Labuan Bajo Semakin Dekat

BANGUNAN beton perlahan berganti dengan gugusan pulau indah dan laut biru, kala berada di langit Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tengara Timur. Pemandangan itu tersaji dua jam setelah terbang dari Jakarta. Rasanya, pintu masuk Taman Nasional Komodo itu kian dekat.

Sebelumnya, sebutan Labuan Bajo beberapa kali terdengar dari pengeras suara di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (26/10/2016), sekitar pukul 09.00. Puluhan penumpang segera beranjak ke gerbang keberangkatan.

Bus lalu mengantar para penumpang ke pesawat jenis Bombardier CRJ1000 NexGen. Pesawat milik maskapai Garuda Indonesia berkapasitas 96 kursi itu terbang membawa sekitar 50 penumpang pukul 10.05.

(BACA: Bersua “Komodo” di Bandara Komodo)

Sekitar dua jam kemudian, pesawat mendarat di Bandar Udara (Bandara) Komodo, Labuan Bajo. Replika komodo raksasa di depan bandara dan embusan angin pantai menyambut penumpang yang baru turun.

KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI Wisatawan tiba di Bandara Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Rabu (26/10/2016), menggunakan pesawat Garuda Indonesia yang berangkat langsung dari Jakarta. Penerbangan langsung sekitar dua jam itu dinilai dapat meningkatkan kunjungan wisatawan.

Suasana itulah yang dirasakan penumpang yang terbang ke Labuan Bajo dari Jakarta sejak Jumat (21/10/2016), ketika Garuda Indonesia pertama kali melayani penerbangan langsung Jakarta-Labuan Bajo pergi pulang.

Ini berbeda dengan rute pesawat ATR72-600 berkapasitas 70 penumpang yang diterbangkan Garuda Indonesia sebelumnya untuk melayani rute Jakarta-Labuan Bajo. Penumpang harus transit di Denpasar, Bali, terlebih dahulu untuk ke Labuan Bajo. Waktu tempuhnya ketika itu lebih dari tiga jam.

(BACA: Jurnalis China Ini Terpukau Melihat Keindahan Labuan Bajo)

Saat ini, dengan adanya penerbangan langsung dari Jakarta, bahkan penumpang dari Sumatera hanya transit di Jakarta. Sebelumnya, penumpang Sumatera harus singgah di Jakarta dan Denpasar, Bali.

Selain lebih cepat, rute baru itu juga lebih hemat. Penumpang setidaknya tidak lagi menambah ongkos Rp 300.000 untuk setiap perjalanan.

KOMPAS/AGUS SUSANTO Elang flores menyambar mangsa di dekat komodo di Pulau Rinca, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Selasa (23/8/2016).

Rute baru itu pun mengundang wisatawan baru ke Labuan Bajo. Sepekan setelah dibuka, tingkat keterisian rute baru itu lebih dari 50 persen. Bahkan, pada 27 dan 29 Oktober, Garuda Indonesia menerbangkan Boeing 737-800 NG berkapasitas 162 kursi ke Labuan Bajo dengan dua kali penerbangan.

Pulau Komodo

Labuan Bajo adalah gerbang menuju Pulau Komodo yang merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia versi organisasi New 7 Wonders. Pesona Pulau Padar, Pulau Rinca, Pantai Merah Jambu, dan rumah adat Wae Rebo juga tersaji.

Direktur Utama Garuda Indonesia (Persero) Tbk Arif Wibowo bahkan menyebut semua obyek wisata itu sebagai Jurassic Park dunia. Tidak mengherankan, hingga awal November, tiket penerbangan langsung Jakarta-Labuan Bajo nyaris ludes dipesan.

”Untuk itu, kami siap menambah penerbangan lagi jika peminat terus bertambah. Bahkan, Labuan Bajo dapat menjadi tempat pertemuan, bahkan pameran,” ujarnya.

Boeing 737-800 NG milik Garuda Indonesia juga siap diterbangkan. Apalagi, landasan Bandara Komodo sepanjang 2.250 meter dapat menjadi tempat pendaratan pesawat berbadan besar itu. ”Akan lebih baik jika panjang landasan ditambah 200 meter,” tambah Arif.

KOMPAS/DWI AS SETIANINGSIH Pinisi yang dioperasikan Plataran di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timir, Selasa (19/1/2016).

Masa depan Labuan Bajo sebagai salah satu dari 10 destinasi wisata unggulan kian cerah. Sejak Januari hingga September, berdasarkan catatan Taman Nasional Komodo, 80.532 wisatawan mengunjungi wilayah itu, atau melonjak dari 2013, yakni sekitar 50.000 wisatawan. Sekitar 70 persen dari jumlah itu adalah wisatawan mancanegara.

Namun, kian mudahnya akses ke Labuan Bajo tidak diimbangi dengan kesiapan pemerintah daerah. Tumpukan sampah, misalnya, terdapat di bibir Pantai Namong, yang juga merupakan Pantai Merah Jambu. Kerusakan jalan bertebaran, misalnya di jalur menuju Plataran yang juga minim lampu jalan. Dinding bukit juga terancam longsor sewaktu-waktu.

Hal itu diakui Bonie Reza, pemilik penginapan Esperanza di Labuan Bajo. Bahkan, saat musim kemarau, warga kesulitan air bersih. ”Pemerintah daerah kaget dengan wisatawan yang datang dan lupa membangun infrastruktur,” ujar Bonie. (ABDULLAH FIKRI ASHRI)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 November 2016, di halaman 11 dengan judul “Labuan Bajo Semakin Dekat”.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/21/170500627/labuan.bajo.semakin.dekat

Leave a Reply