Apa "Resep" Italia Bisa Jadi Negara Industri Pariwisata Terkuat Di Dunia?

ROMA, KOMPAS.com – Italia adalah salah satu negara dengan industri pariwisata terkuat di dunia.

Sektor pariwisata Italia menyumbang hampir 12 persen dari PDB negara itu. Juga, Italia memiliki situs warisan dunia yang tercatat di lembaga PBB UNESCO, terbanyak di dunia.

Dengan pencapaian tersebut, Indonesia pun ingin “berguru” dari negara tersebut.

Meski target kunjungan 10 juta turis asing ke Indonesia tahun 2015 telah tercapai, namun angka ini masih lebih rendah dari jumlah wisatawan yang datang ke negara-negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia.

Meningkatkan jumlah situs budaya dan alam di Indonesia yang diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO, diperkirakan akan menjadi hal penting untuk mendongkrak pariwisata Indonesia.

Berangkat dari hal itu, Komisi X DPR RI pun berkunjung ke Italia pada tanggal 15-19 November 2016 lalu.

Berdasarkan siaran pers KBRI Roma untuk Kompas.com, disebutkan, Wakil Ketua Komisi Abdul Fikri Faqih Komisi X DPR RI memimpin rombongan ini.

Mereka menemui pihak legislatif dan eksekutif Italia untuk membahas isu pariwisata, pemeliharaan cagar budaya, serta peningkatan kerja sama ekonomi kreatif kedua negara.

Komisi X DPR RI adalah komisi yang membidangi isu pendidikan, pemuda, olahraga, pariwisata, kesenian dan kebudayaan.

Sejak tahun 1909 legislasi kebudayaan Italia, telah terpusat pada pemeliharaan cagar budaya.

Aspek “pelestarian” dan “restorasi” menjadi hal utama, mengingat banyaknya aset sejarah bernilai seni tinggi yang ada di negeri itu.

Ketua Komisi VII Senat Italia, Andrea Marcucci menyebutkan, Italia memberikan insentif bagi para pembuat film (sinematografer) yang mengambil lokasi pengambilan gambar di Italia.

Hal ini dilakukan untuk memajukan perfilman setempat serta mempromosikan wilayah-wilayah di Italia sebagai destinasi pariwisata.

Secara administratif, Italia memiliki 20 wilayah regional yang masing-masing memiliki karakteristik tersendiri.

Memperhatikan hal tersebut, Konstitusi Italia menetapkan pengaturan anggaran dan kegiatan pariwisata serta pemeliharaan cagar budaya dikelola Pemerintah Daerah setempat.

Apabila Referendum Konstitusi Italia mendatang memandatkan perubahan Konstitusi, maka kompetensi pariwisata akan dikembalikan pada Pemerintah Pusat.

Selain itu, karena besarnya biaya pemeliharaan cagar budaya, Pemerintah Italia memberikan solusi. 

Solusi itu berupa kemudahan fiskal hingga 65 persen bagi pihak swasta yang membantu upaya restorasi.

Hal ini dikemukakan Staf Ahli Menteri Cagar Budaya, Aktivitas Kebudayaan dan Pariwisata untuk Bidang Diplomasi, Uberto Vanni D’Archirafi.

Menurut D’Archirafi, terdapat kesamaan karakteristik antara Indonesia dan Italia yang dapat dijadikan benang merah dalam kebijakan penanganan isu pariwisata.

Kesamaan itu adalah keragaman keindahan alam dan keunikan budaya di tiap-tiap wilayahnya.

Italia saat ini juga tengah berupaya mengembangkan wilayah destinasi wisata non-tradisional.

Sehingga pariwisata Italia nantinya tidak hanya berpusat pada kota-kota seperti Roma, Milan, Venezia, Firenze dan beberapa wilayah pantai di Selatan Italia.

Hal ini serupa dengan upaya Pemerintah Indonesia yang ingin meningkatkan kunjungan wisata ke provinsi lain di luar Bali.

Kedua negara sendiri telah memiliki nota kesepahaman kerja sama di bidang pariwisata yang ditandatangani pada saat kunjungan Presiden Italia, Sergio Mattarella, ke Indonesia bulan November 2015 lalu.

Saat ini tercatat jumlah wisatawan Italia yang berkunjung ke Indonesia sebesar 68.024 orang (data BPS tahun 2014).

Sementara itu, berdasarkan jumlah visa yang dikeluarkan Kedubes Italia di Jakarta pada tahun 2015, terdapat 24.381 WNI yang berkunjung ke Italia.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/21/071439027/apa.resep.italia.bisa.jadi.negara.industri.pariwisata.terkuat.di.dunia.

Leave a Reply